SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI .....

Saturday, 29 November 2014

"Quipper School" Media belajar online yang asyik


Sidoarjo-Di era kemajuan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) ini infrastruktur serta fasilitas berbasis internet jumlahnya semakin meningkat dan banyak diminati oleh masyarakat banyak. Tak terkecuali di bidang pendidikan. Di sektor ini sendiri terdapat banyak kontribusi TI yaituelectronic learning (e-learning), quiz online, dll.
Quipper School memadukan banyak aktivitas pembelajaran di kelas menjadi jauh lebih mudah dan menarik melalui media online. Website resmi dengan versi bahasa Indonesia dapat diakses di link ini.
Quipper School portal Guru

Quipper School portal Siswa

Wednesday, 26 November 2014

Monday, 17 September 2012

Koding Web Service

Koding Untuk Membuat "test_client"

<?php
$requestPayloadString = <<<XML
<ns1:echoString xmlns:ns1="http://wso2.org/wsfphp/samples"><text>Praktikum IAK</text></ns1:echoString>
XML;

try {

    $client = new WSClient(array("to"=>"http://localhost/test_server.php"));

    $responseMessage = $client->request($requestPayloadString);

    printf("Response = %s <br>", htmlspecialchars($responseMessage->str));

} catch (Exception $e) {

    if ($e instanceof WSFault) {
        printf("Soap Fault: %s\n", $e->Reason);
    } else {
        printf("Message = %s\n",$e->getMessage());
    }

}
?>

Untuk Membuat "test_server"

<?php
$requestPayloadString = <<<XML
<soapenv:Envelope xmlns:soapenv="http://www.w3.org/2003/05/soap-envelope">
   <soapenv:Header/>
   <soapenv:Body>
     <ns1:echoString xmlns:ns1="http://wso2.org/wsfphp/samples">
         <text>Hello World!</text>
     </ns1:echoString>
    </soapenv:Body>
</soapenv:Envelope>
XML;

function echoFunction($inMessage) {
    $outMessage = new WSMessage($inMessage->str);
    return $outMessage;
}

$operations = array("echoString" => "echoFunction");

$service = new WSService(array("operations" => $operations));
       
$service->reply($requestPayloadString);

?>



sumber : Localhost Sample

Wednesday, 15 August 2012

Passpor , Penting kah ??


Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.



Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki "surat ijin memasuki dunia global.". Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport. Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.

"Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?" Saya katakan saya tidak tahu. *Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. *Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin. Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.


The Next Convergence*

Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong. Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya
sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing. Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka. Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

*Rhenald Kasali - Guru Besar Universitas Indonesia *
*RAIHLAH ILMU, DAN UNTUK MERAIH ILMU, BELAJARLAH UNTUK TENANG, DAN SABAR. *
*(KHALIFAH UMAR R.A.)*

Passport [Jawapos, 8 Agustus 2011]

Thursday, 26 July 2012

Membuka Exsitensi File .MYD dan MYI

Cerita ini berawal dari atas ruang Meja Kerja Praktek (KP) di salah satu pojok kantor Kementrian Agama RI, tepatnya pada bagian Subdit Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren [PD Pontren]. Berawal dari rasa keingintahuan terhadap project kakak kelas yang terdahulu, ketika telah mendapatkan file mentahannya ternyata resource dari databasenya masih dalam bentuk file .MYD, .FRM, .MYI. wahh ... wahh ... ini merupakan istilah yang baru bagi saya, dibolak balik tidak bisa dibuka, rasa penasaran semakin menjadi-jadi. Maka selanjutnya saya cari di google, telah banyak sekali yang sudah mengeksplor tentang 3 tipe file exsistensi ini. 

Wednesday, 25 July 2012

Download Macromedia Dreamwever



Untuk mempelajari pemrograman web, kita membutuhkan software yang bisa dipakai untuk menulis perintah-perintah kode. Macromedia Dreamweaver 8 adalah salah satu solusinya. Software ini bisa digunakan untuk menulis script CSS, HTML, PHP, JavaScript, dan lain sebagainya. Selain itu, software ini membutuhkan memori yang sedikit, sehingga ringan digunakan. Ukurannya juga kecil, hanya 60MBan! Meskipun macromedia sudah tidak lagi berjalan, dan produk ini akhirnya diteruskan oleh Adobe. Tapi masih banyak programmer yang memakai Macromedia Dreamwaver. Disini saya akan memberikan link download macromedia dreamwaver plus crack nya. 

Download pada salah satu link berikut:


Referensi : IT Programmer

Tuesday, 24 July 2012

Sinopsis Buku " Penakluk Badai " Novel Biografi KH. Hasyim Asy'ari


The Hidden History (sejarah yang tersembunyi) kini telah terkuak. Munculnya karya fiksi dalam bentuk novelisasi biografi tokoh besar KH. Hasyim Asy’ari ini menggemparkan kesadaran historis kita. Bangsa Indonesia pada umumnya, dan masyarakat sejarah khususnya, perlu mempertimbangkan kembali informasi-infromasi sejarah yang tertuang dalam karya fiksi ini.
Judul Buku         : Penakluk Badai, Novel Biografi KH. Hasyim Asy’ari
Pengarang         : Aguk Irawan MN
Penerbit              : Global Media Utama
Tahun Terbit      : Cet. ke-I, 2012
Tebal                   : xxxii + 530 halaman + lampiran
Peresensi          : KH Imam Jazuli, Lc., MA*


Bapak Revolusi Pendidikan Islam
Aguk Irawan mencoba menyingkap detail karisma dan keagungan KH. Hasyim Asy’ari yang selama ini hanya direduksi sebagai tokoh besar di kalangan Ormas Nahdhatul Ulama (NU) yang perannya sering hanya diketahui sekedar membela Aswaja dan menolak keras wahabisme. Lebih dari itu, dengan mengangkat perjuangan dan sumbangsihnya di bidang pendidikan, KH. Hasyim ditampilkan sebagai Bapak Revolusi Pendidikan Islam. Dimulai dari Tebuireng, KH. Hasyim mendirikan pondok pesantren di tengah-tengah masyarakat bromocorah, perampok, pemabok, suka berjudi dan prostitusi, dan asusila. Tindakan ‘nyleneh’ beliau kali ini membuat cengang para Kiai Sepuh karena dianggap tidak lazim.

Di bidang kurikulum dan metode pengajaran, gagasan KH. Hasyim Asy’ari membongkar kejumudan yang mengkarat. Materi ilmu-ilmu umum sampai metode seminari dimasukkan ke dalam Pendidikan Islam bersanding imbang dengan ilmu-ilmu agama. Sementara metode pengajaran ala salaf yang dikenal di kalangan pesantren tetap dipertahankan sisi-sisi positifnya (hlm, 171-172). Tentu saja para Kiai Sepuh terheran-heran melihat perubahan pada para santri yang mulai memperdebatkan dan kritis terhadap wacana ilmu pengetahuan. Kelak, Bahts al-Masail sebagai metode Istimbat al-Hukm dalam tradisi NU, sejatinya, adalah buah manis dari metode pengajaran yang dipopulerkan oleh beliau.

Nasionalis Sejati

Novel ini kembali menampilkan KH. Hasyim sebagai sosok kontroversial, yang gagasannya selalu melampaui zamannya. Melalui hasil istikharahnya (hlm, 320), KH. Hasyim Asy’ari mau menerima tawaran kerjasama dari Jepang. Sementara banyak para Kiai lain dan rakyat yang sempat menjadi korban kekejaman Jepang mengkhawatirkan langkah politik KH. Hasyim tersebut. Jepang sendiri melunak dan mengambil jalan koperatif terhadap pribumi lantaran cemas bahwa suatu hari nanti Belanda akan merebut kembali wilayah yang kini diduduki Jepang. Kecemasan itu terbukti. Forum Internasional di Wina pada 1942 memutuskan bahwa negara-negara sekutu sepakat akan mengembalikan wilayah-wilayah yang diduduki Jepang kepada koloni masing-masing.

Landasan logika yang dijadikan pijakan KH. Hasyim adalah kenyataan bahwa beratus-ratus tahun bangsa Indonesia dijajah Belanda, sehingga mentalitasnya rapuh dan mudah ciut. Dengan didikan dan gemblengan militer dari Jepang, bangsa Indonesia diharapkan memiliki kesiapan mental dengan suasana peperangan. Hal ini menjadi modal untuk kelak merebut kemerdekaan yang sesungguhnya. Sementara para kiai dari pesantren-pesantren lain melontarkan tuduhan bahwa KH. Hasyim Asy’ari adalah antek kolonialisme dan anti kemerdekaan (hlm, 322). Bagi mereka, cara yang tepat merebut kemerdekaan adalah dengan melawan kaum penjajah, tanpa kompromi apapun. Dengan kata lain, kubu KH. Hasyim adalah kubu nasionalis sejati sementara para kiai lain adalah nasionalis-idealis. Namun nyatanya, langkah politik yang ditempuh KH. Hasyim terbukti berbuah manis, masyarakat pribumi telah mengalami kemajuan yang pesat berkat keterlibatan Jepang.

Dalang di Balik Tercetusnya Ideologi Negara

Novel ini semakin seru tatkala menceritakan suasa politik nasional yang memanas lantaran terjadinya pertentangan kelompok dalam menentukan ideologi negara. Pada sidang BPUPKI 28 Mei-1 Juni 1945, kubu yang didalangi Soekarno dan Soepomo menghendaki negara ini bercorak nasionalis sekuler. Sedangkan kubu yang dikomandoi Muhammad Yamin menginginkan Islam sebagai landasan dasar negara Indonesia. Kedua kubu ini masih terus saling menguatkan pandangan masing-masing, sehingga nasib Indonesia masih di ambang kesuraman, apakah dijadikan negara sekuler atau negara Islam. Pertentangan tersebut baru reda setelah hadirnya Abdul Wahid Hasyim.

Abdul Wahid Hasyim yang sudah menerima gagasan dari ayahandanya, KH. Hasyim Asy’ari, tampil sebagai penengah dan mempertemukan dua kubu yang bertentangan itu. Wahid Hasyim menyampaikan pesan-pesan dari ayahandanya bahwa kondisi sosial politik bangsa Indonesia ketika itu persis dengan kondisi Madinah pada masa Rasulullah. Karena itulah, ideologi negara yang tercantum dalam Piagam Madinah layak untuk dijadikan contoh dalam merumuskan ideologi negara Indonesia. Mendengar penjelasan dari Wahid Hasyim, putra KH. Hasyim, kubu Soekarno dan kubu M. Yamin sama-sama menerima. Sejak saat itulah, Piagam Jakarta disepakati bersama (hlm, 346). Secara tidak langsung, KH. Hasyim Asy’ari adalah dalang di balik tercetusnya ideologi negara Indonesia, dan berkat gagasannya itu pertentangan ideologi dapat diredakan.

Pembela Kemerdekaan

Kadang kala, pihak yang paling mencintai negara adalah rakyat, dan pemerintah seringkali memiliki logika yang jauh dari hati nurani kaum bawah. KH. Hasyim Asy’ari atas nama hati nurani rakyat mengeluarkan fatwa jihad fi sabilillah untuk melawan tentara sekutu yang berniat kembali menguasai Indonesia. Sementara pemerintah menyepakati kesepatakan ‘gelap’ dengan pihak kolonial yang disebut Perundingan Linggarjati. ‘Kesepatakan gelap’ yang dimaksud adalah kesepatakan yang tidak mewakili seluruh suara rakyat, sehingga Perundingan Linggarjati-salah satu pointnya—membentuk Negara Republik Indoneisa Serikat (RIS). KH. Hasyim, Bung Tomo, Jenderal Soedirman, Kiai Wahab Hasbullah, dan tokoh-tokoh lainnya mengadakan kesepakatan tandingan di Tebuireng. Bagi kubu KH. Hasyim, kemerdekaan adalah harga mati dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Negara RIS dianggap sama halnya dengan menggadaikan kembali kemerdekaan. Pada saat itulah, negara menjadi ‘tak-berfungsi’. KH. Hasyim menjadi komando utama untuk menggerakkan rakyat melawan penjajah. Sayangnya, KH. Hasyim harus pergi menemui Tuhan Pencipta Kehidupan ini tepat pada saat satu persatu wilayah nusantara ini jatuh ke tangan penjajah.

Sebagai buku bermuatan sejarah, karya Aguk Irawan ini dapat dibilang sukses. Namun sebagai karya fiksi, ia menyimpan ‘kecacatan’; data-data sejarah menumpuk disana-sini, sehingga mengganggu pembaca menikmati keindahan fiksi itu sendiri. Akan tetapi, ‘kekurangan’ ini boleh jadi sebagai ‘sisi keunggulan’nya, mengingat informasi-informasi sejarah yang ditampilkan seakan-akan ingin menciptakan ‘sejarah baru’ versi si pengarang. Terbukti ketika beberapa tokoh nasional yang kita puja selama ini, malah dalam novel ini diungkap segala sisi keburukannya (hlm, 401).

* Wakil Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (PP RMI)-PBNU Jakarta, Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon

Sumber: http://bergerak-untuk-hidup.blogspot.com/2012/04/catatan-kecil-dari-penakluk-badai-novel.html